“Kita juga harus lihat industri kecantikan bukan hanya dari material, tetapi juga segi packaging apa yang dibutuhkan di Indonesia sebab marketnya sudah besar. We ready to take the company to global,” tambahnya.
Wamenekraf Irene berharap Indonesia yang multikultural juga memiliki unique selling points yang dimiliki tiap brand. Bila bicara tentang sustainability product, maka industri tak hanya melihat pasar domestik, tetapi juga harus melirik pasar luar sebagai bentuk diversification of market step.
“Kalau setiap investasi yang dilakukan oleh Pemerintah itu harus ada domino effect terhadap ekonomi. Jadi, ekonomi value creation itu harus ada. Benahi segi operasional bisnis karena tantangan terbesar bagi pelaku bisnis dalam industri kecantikan lokal ada dalam produksi dan distribusi. Berarti, iklim kompetisi makin terasa dengan adu harga. Selain itu, industri kecantikan juga harus melihat pembentukan komunitas sebagai unsur yang penting jangkau pasar lebih luas. Find your brand story and start building the community from now,” tambah Wamenekraf Irene, yang didampingi oleh Direktur Fesyen, Romi Astuti.
Future of Beauty Summit 2025 telah menjadi ruang bagi individu-individu untuk saling menginspirasi dan mengembangkan potensi satu sama lain, dengan fokus pada aspek keberlanjutan dan inovasi dari para ahli dalam industri kecantikan. Selama satu hari, para beauty enthusiast dan beauty entrepreneurs yang hadir dapat mengikuti talkshow terkait perkembangan kecantikan terbaru.
Sementara itu, Riva Dwitya Akhmad, Scientific and Regulatory Affairs Director L’Oréal Indonesia, menyebutkan bahwa industri kosmetik di Indonesia mengalami pertumbuhan yang tinggi. “Data dari BPOM sudah ada lebih dari 400 ribu produk yang terdaftar untuk industri kosmetik. Menariknya, dari 60 persen produk tersebut diproduksi di dalam negeri. Tetapi, industri yang sudah growing memang punya concern terhadap value utility bahan baku yang masih banyak bergantung terhadap bahan baku impor,” ungkap Riva.
Perwakilan dari VENAS Consulting juga memaparkan mereka sudah melakukan identifikasi terhadap perubahan pola perilaku konsumen dalam belanja skincare, baik dari sisi frekuensi, alokasi biaya bulanan, maupun jumlah biaya yang dikeluarkan setiap bulan.

