GELUMPAI.ID — Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi buka suara soal pailitnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang berujung PHK massal.
Ristadi meminta BPJS Ketenagakerjaan mempercepat pencairan klaim Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Ia berharap dana tersebut dapat diterima pekerja maksimal seminggu sebelum Idulfitri.
“Hal ini dikarenakan uang JHT adalah harapan satu-satunya untuk menyambung kebutuhan hidup. Apalagi menjelang Hari Raya Idulfitri di mana tingkat kebutuhan naik,” ujar Ristadi, Senin (3/3/2025).
Tak hanya itu, ia juga mendesak pengurus koperasi Sritex segera membagikan tabungan pekerja sebelum Lebaran tiba.
Ribuan Pekerja Kena PHK
KSPN menaungi serikat pekerja di tiga dari empat perusahaan grup Sritex. Salah satunya PT Bitratex, Semarang, yang terkena dampak pailit dengan lebih dari 1.065 pekerja kehilangan pekerjaan. Perusahaan lain yang terdampak adalah PT Primayuda di Boyolali dan PT Sinar Panca Jaya di Semarang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo, Sumarno, menyebut bahwa karyawan Sritex resmi terkena PHK sejak 26 Februari 2024. Hari terakhir kerja jatuh pada 28 Februari, sementara perusahaan tutup mulai 1 Maret 2025.
“Duka dan rasa prihatin kami bertambah panjang atas tutupnya operasional PT Sritex dan tiga perusahaan grupnya yang mengakibatkan puluhan ribu pekerja kehilangan pekerjaan,” ujar Sumarno.
Ristadi pun mengapresiasi upaya pemerintah dalam menyelamatkan Sritex, meski hasilnya belum sesuai harapan. Ia meminta kurator segera merealisasikan hak pesangon pekerja, yang seharusnya menjadi prioritas dalam pembayaran.
“Kami meminta pihak owner untuk kooperatif dalam proses kepailitan, tanpa tindakan yang menghambat pemenuhan hak-hak pekerja,” tegasnya.
Pekerja Sritex Tetap Kondusif
Di tengah gelombang PHK massal, suasana di lingkungan kerja Sritex tetap kondusif. Ristadi menyebut peristiwa ini unik dalam sejarah hubungan industrial di Indonesia.
“Baru pertama kali terjadi, pabrik tutup tapi pekerjanya tidak melakukan aksi unjuk rasa. Justru ada seremoni perpisahan antara owner dan pekerja, layaknya siswa yang baru lulus sekolah,” katanya.