GELUMPAI.ID – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi gempa megathrust di Selat Sunda menjadi ancaman nyata bagi Jakarta. Jika zona ini pecah, gempa dengan kekuatan hingga magnitudo 9,1 bisa mengguncang ibu kota, bahkan memicu tsunami dahsyat.
Nuraini Rahma Hanifa, Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menjelaskan bahwa potensi bencana ini menyerupai tragedi tsunami Aceh 20 tahun lalu. “Energi tektonik yang terkunci di zona megathrust selatan Jawa terus bertambah. Jika dilepaskan sekaligus, dampaknya bisa memicu gempa besar dan tsunami hingga Jakarta,” ujarnya.
Melansir laman resmi BRIN, simulasi menunjukkan tinggi gelombang tsunami akibat gempa megathrust Selat Sunda diperkirakan mencapai 20 meter di pesisir selatan Jawa, 3-15 meter di Selat Sunda, dan sekitar 1,8 meter di pesisir utara Jakarta. Dalam waktu 2,5 jam setelah gempa, tsunami bisa menghantam wilayah Jakarta.
Ancaman untuk Infrastruktur Jakarta
Zona megathrust Selat Sunda, menurut para ahli, menyimpan ancaman guncangan besar bagi Jakarta karena tanah aluvial di bawah ibu kota mampu memperbesar amplitudo guncangan. “Retrofitting bangunan di kawasan padat penduduk sangat penting untuk mencegah kerusakan masif dan korban jiwa,” tegas Nuraini.
Untuk kawasan industri seperti Cilegon, potensi sekunder seperti kebakaran akibat kebocoran bahan kimia atau bahan bakar menjadi perhatian serius. Standar keamanan ketat harus segera diterapkan demi mitigasi risiko.
‘Bom Waktu’ Megathrust Selat Sunda
Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menyebut zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai “bom waktu” yang tinggal menunggu saatnya pecah. “Kedua zona ini merupakan seismic gap yang sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi besar. Rilis gempa tinggal menunggu waktu,” ungkapnya.
Peta sejarah mencatat Megathrust Selat Sunda pernah melepaskan gempa besar pada 1699 dan 1780 dengan magnitudo sekitar 8,5. Sementara itu, Megathrust Mentawai-Siberut mencatat gempa besar pada 1797 dan 1833 dengan magnitudo di atas 8,7.
Menurut Subardjo, Eks Ketua IKAMEGA, skenario terburuk dari pecahnya Megathrust Selat Sunda adalah Jakarta mengalami kerusakan serupa Aceh pada tahun 2004. “Namun, yang lebih dikhawatirkan adalah amplifikasi getaran akibat kondisi tanah di Jakarta,” jelasnya.