Bisnis & Ekonomi News

Mengapa Starbucks Lebih Mirip Bank daripada Kedai Kopi?

GELUMPAI.ID – Starbucks dikenal luas sebagai jaringan kedai kopi internasional yang berbasis di Seattle, Washington. Dikutip dari Today.com, sebagai jaringan kedai kopi terbesar di dunia, Starbucks memiliki 35.711 toko yang tersebar di 80 negara, dengan 381.000 karyawan yang membantu raksasa kopi ini menghasilkan pendapatan mencapai $35 miliar.

Namun, jika dilihat lebih dalam, Starbucks lebih dari sekadar kedai kopi biasa. Perusahaan ini beroperasi sebagai salah satu bank terbesar yang tidak teratur di dunia berkat program loyalitas yang cerdik.

Untuk benar-benar memahami bagaimana Starbucks berfungsi layaknya bank, kita perlu melihat bagaimana mereka mengajak para pelanggan kopi untuk “menyetorkan” uang mereka melalui Program Starbucks Rewards.

Diluncurkan pada Mei 2008, Starbucks Rewards adalah sistem loyalitas yang memungkinkan pelanggan untuk menyetorkan uang ke dalam akun Rewards Starbucks melalui aplikasi Starbucks. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli kopi dan makanan lainnya di berbagai gerai Starbucks.

Starbucks memiliki sekitar 31 juta anggota aktif Starbucks Rewards di AS saja, yang berkontribusi sebesar 41% dari total penjualannya.

Trump Main Tarif, Apa Kabar Ekonomi Kita?

Untuk mendorong pelanggan agar lebih memilih memuat uang ke aplikasi sebelum bertransaksi, alih-alih membayar langsung, Starbucks menawarkan berbagai imbalan kepada pengguna aplikasi mereka.

Dengan menggunakan dana prabayar di aplikasi Starbucks, pelanggan menerima poin loyalitas yang disebut Stars. Poin ini dapat dikumpulkan dan ditukarkan dengan makanan ringan, minuman gratis, atau diskon.

Karena insentif ini, banyak pelanggan yang rela menyetorkan puluhan bahkan ratusan dolar ke aplikasi Starbucks. Pada akhir 2022, terdapat $1,7 miliar yang terdeposit dalam akun Starbucks, menunggu untuk dibelanjakan di toko-toko.

Menariknya, dengan memegang $1,7 miliar dalam bentuk deposit, jika Starbucks dipandang sebagai bank, perusahaan ini akan menempati posisi sebagai bank komersial terbesar ke-545 di Amerika Serikat, dari 2.118 bank, berdasarkan jumlah deposit yang dimiliki, menurut data Federal Reserve pada Maret 2023.

Bank tradisional mengumpulkan deposit dari nasabah dan kemudian meminjamkan dana tersebut kepada peminjam dengan bunga untuk meraih keuntungan. Setelah pinjaman dilunasi, bank akan membagi keuntungan yang diperoleh antara nasabah dan mereka sendiri.

Jalur Tol Probowangi Segmen Gending-Kraksaan-Paiton Dibuka Fungsional untuk Arus Balik Lebaran 2025

Starbucks beroperasi dengan cara serupa, namun dengan perbedaan besar—mereka tidak membagikan keuntungan yang dihasilkan dari deposit nasabah kepada pelanggan mereka. Dengan menggunakan miliaran dolar dalam deposit pelanggan, Starbucks menghasilkan nilai untuk dirinya sendiri sebelum pelanggan melakukan pembelian, bahkan jika mereka tidak membelanjakan dana tersebut.

Fenomena ini terjadi ketika pelanggan lupa menggunakan dana yang telah mereka setorkan sepanjang tahun, sehingga Starbucks dapat menyimpan dana tersebut. Pada tahun 2022, Starbucks mencatat sekitar $196 juta dari dana yang tidak terpakai oleh pelanggan, yang kemudian dilaporkan sebagai pendapatan.

Secara tradisional, perusahaan yang ingin mengembangkan operasionalnya akan meminta pinjaman dari bank dan membayar bunga atas jumlah yang dipinjam.

Namun, Starbucks tidak perlu bergantung pada pinjaman bank tradisional, karena pelanggan mereka pada dasarnya memberikan pinjaman miliaran dolar kepada perusahaan tanpa bunga. Hal ini memungkinkan Starbucks untuk berkembang dengan sangat cepat tanpa harus membayar biaya bunga.

Dengan berinvestasi pada usaha jangka pendek berisiko rendah, seperti derivatif, Starbucks dapat menghasilkan sekitar 0,05% dari deposit pelanggan. Meskipun angka ini terdengar kecil, mari kita lakukan perhitungan hipotetis:

Hungaria Keluar dari ICC Usai Kedatangan Netanyahu di Budapest

0,05% dari $1,7 miliar adalah sekitar $850.000 dalam bentuk keuntungan murni setiap kali raksasa kopi ini memutuskan untuk berinvestasi dalam usaha seperti itu, yang bisa saja terjadi setiap hari.

Jika Starbucks menginvestasikan dana pelanggan sebanyak 100 kali dalam setahun, mereka bisa menghasilkan keuntungan yang mengesankan sebesar $85 juta.

Kesuksesan Starbucks sebagai lembaga keuangan sangat besar, sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa Starbucks lebih mirip dengan bank daripada sebuah kedai kopi. Dengan mengelola dana yang setara dengan bank besar, Starbucks telah menciptakan model bisnis yang tidak hanya mengandalkan penjualan kopi, tetapi juga memanfaatkan dana yang disetorkan pelanggan sebagai sumber keuntungan tambahan.

Berita Populer

01

Axel Pons Pembalap Moto2 yang Jadi Musafir Jalan Kaki ke India

02

Pilkada Absurditas

03

Kejati Banten Dituding Politisasi Kasus untuk Downgrade Airin

04

CCTV Ungkap Detik-Detik Tragis Liam Payne di Hotel

05

Net TV Resmi Ganti Nama Jadi MDTV dan Pimpinannya, Halim Lie Ditunjuk Jadi Direktur Utama