GELUMPAI.ID — Red Bull baru saja membuat keputusan berani yang mengejutkan, menurunkan Liam Lawson setelah hanya dua balapan di musim 2025.
Lawson, yang gagal meraih poin dan tersingkir di babak pertama kualifikasi pada tiga sesi, kini resmi kembali ke tim satelit Racing Bulls. Yuki Tsunoda, yang sempat diabaikan, kini mendapat kesempatan langka untuk menggantikan Lawson dan akan menjadi rekan Max Verstappen mulai GP Jepang.
Red Bull sudah lama dikenal dengan keputusan tegas dan sering kali tanpa ampun terhadap para pembalapnya. Nama-nama seperti Daniil Kvyat, Pierre Gasly, dan Alex Albon adalah contoh bagaimana tim ini tidak segan-segan melakukan rotasi meskipun hanya dalam waktu singkat.
Namun, tidak ada yang sependek perjalanan Lawson, yang akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu masa jabatan terpendek di F1. Keputusan Red Bull kali ini tentu menimbulkan tanda tanya besar.
Apa yang sebenarnya terjadi di Red Bull?
Untuk memahami situasi ini, kita harus melihat latar belakangnya. Keputusan untuk mencoret Lawson bukan tanpa alasan. Sebelumnya, baik Gasly maupun Albon juga mengalami nasib serupa—gagal tampil maksimal sebagai tandem Verstappen. Begitu pula dengan Sergio Perez, yang meskipun sukses awalnya, akhirnya diturunkan setelah gagal bersaing dengan Verstappen di beberapa musim terakhir.
Sejak mobil Red Bull menjadi lebih sulit dikendalikan, Verstappen mampu beradaptasi dengan baik, sementara rekan-rekannya kesulitan. Verstappen tetap dapat meraih hasil maksimal meskipun banyak yang meragukan mobil RB21 yang ia kendarai.
Namun, Lawson justru kesulitan. Tanpa poin di dua balapan pertama dan selalu tereliminasi pada babak pertama kualifikasi, Red Bull merasa bahwa ia tidak bisa memenuhi ekspektasi.
Lalu, bagaimana nasib Yuki Tsunoda?
Tsunoda, yang akhirnya dipilih menggantikan Lawson, kini menghadapi tantangan besar. Meskipun memiliki lebih banyak pengalaman, tugas yang dihadapinya jauh lebih berat. Ia akan menjadi rekan Verstappen yang kelima setelah Daniel Ricciardo pergi pada 2018.