GELUMPAI.ID – Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan langkah besar: penghentian impor pangan, termasuk beras, jagung, gula konsumsi, dan garam konsumsi pada 2025. Ini adalah upaya untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Ambisi yang diusung sejalan dengan visi mencapainya swasembada pangan.
Namun, ada tantangan serius yang harus dihadapi. Data terkini memperlihatkan produksi beras nasional pada 2024 hanya 30,34 juta ton, mengalami penurunan sekitar 2,43 persen dibandingkan tahun lalu. Begitu pula dengan jagung, di mana impor meningkat signifikan menjadi 1,3 juta ton. Sepertinya, langkah menuju kemandirian pangan bukan tanpa rintangan.
Listya Endang Artiani, dosen dan peneliti Universitas Islam Indonesia, mengingatkan bahwa situasi ini semakin kompleks di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu persoalan besar adalah konversi lahan pertanian produktif yang beralih menjadi lahan non-pertanian. Ditambah lagi, penerapan teknologi pertanian yang belum merata dan terbatasnya akses petani pada input penting seperti pupuk dan benih unggul. “Tantangan besar untuk meningkatkan produktivitas, itu sudah jelas,” ujar Listya.
Pemerintah meluncurkan berbagai program ambisius untuk mengatasi masalah ini, termasuk menyediakan makanan gratis untuk lebih dari 80 juta anak sekolah. Ini diharapkan membantu menanggulangi masalah stunting dan gizi buruk. Pada hari pertama distribusi, 500.000 paket makanan telah diberikan dari 190 pusat distribusi. “Program ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia, khususnya di sektor pangan,” tambah Listya.
Proyeksi 2025 menampilkan tantangan yang lebih besar. Menurut Kementerian Pertanian, untuk memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia membutuhkan tambahan 60 juta ton gabah kering giling setiap tahunnya. Di sektor jagung, kebutuhan diperkirakan mencapai 20 juta ton, sebagian besar untuk pakan ternak. Namun, data yang ada memperlihatkan produksi garam domestik pada 2024 hanya mencapai 2 juta ton, masih jauh dari angka kebutuhan. Gula konsumsi juga masih mengandalkan impor, yang mencakup 30 persen dari kebutuhan nasional.