GELUMPAI.ID — Max Verstappen dikabarkan kecewa dengan keputusan Red Bull menggantikan Liam Lawson dengan Yuki Tsunoda.
Tim memastikan perubahan ini menjelang Grand Prix Jepang, setelah Lawson hanya diberi kesempatan dua balapan di Red Bull sebelum dikembalikan ke Racing Bulls.
Ketidakpuasan Verstappen terlihat dari aksinya di media sosial. Ia menyukai unggahan mantan pembalap F1, Giedo van der Garde, yang mengkritik keputusan Red Bull.
Penasihat Red Bull, Helmut Marko, akhirnya buka suara dan mengonfirmasi perasaan Verstappen.
“Kesimpulan itu benar, dan dia memang mengungkapkannya,” ujar Marko kepada Motorsport.
Namun, Marko menegaskan bahwa tim punya alasan kuat. Red Bull membutuhkan dua mobil di 10 besar untuk mengamankan gelar juara.
“Max berargumen kalau mobilnya sulit dikendarai, dan jika lebih baik, performa Lawson juga akan meningkat,” tambahnya.
Ia mengakui bahwa pengembangan mobil terus dilakukan, tetapi sulit memprediksi kapan hasilnya terlihat.
Marko juga membantah bahwa Lawson “diturunkan” ke Racing Bulls. Ia menegaskan keputusan ini justru untuk melindungi karier pembalap muda asal Selandia Baru itu.
“Dia tidak diturunkan, dia pindah ke Racing Bulls yang memiliki mobil lebih kompetitif dan lebih mudah dikendarai dibanding RB21,” jelas Marko.
Menurutnya, Lawson kehilangan kepercayaan diri akibat awal musim yang sulit, terutama karena sesi latihan di Australia dibatalkan.
“Di China pun ada sprint race, yang berarti hanya satu sesi latihan. Itu makin menyulitkannya,” kata Marko.
Red Bull juga mengakui bahwa RB21 bukan mobil yang mudah dikendarai.
“Dia seperti petinju yang terpojok di tali ring. Kalau sudah seperti itu, lebih baik ditarik keluar,” lanjutnya.
Namun, Marko menegaskan bahwa Red Bull tetap memberi Lawson peluang bertahan di F1 berkat tim satelit mereka.
“Kami punya sistem unik yang memungkinkan kami menjaga dia tetap di Formula 1,” ujarnya.
Marko membandingkan situasi ini dengan Pierre Gasly dan Alex Albon, yang pernah mengalami nasib serupa sebelum bangkit kembali.